Senin, Juni 07, 2010 By: Reni

Belajar dari kesalahan

Jangan takut dengan kesalahan. Kebijaksanaan biasanya lahir dari kesalahan. ~ Paul Galvin ~

Hari itu, 20 Nopember 1995, adalah hari istimewa bagiku karena pada hari itu aku diwisuda menjadi seorang sarjana. Kedua orang tuaku, adikku dan kekasihku hadir untuk menjadi saksi atas kebahagiaanku. Sayang sekali, sahabat-sahabatku dari luar kota yang semula berencana datang terpaksa mengurungkan niatnya karena bertepatan dengan pelaksanaan Ujian Tengah Semester. Terus terang saja, aku sedikit kecewa karena tak jadi melewati hari spesial itu bersama seluruh sahabatku.

Yang lebih membuatku kecewa adalah, saat sahabat terdekatku di tempat kost ~Upik~ memutuskan untuk pulang ke Jakarta pada 2 hari menjelang hari wisudaku. Saat itu aku sempat menentang kepulangannya, tapi dia memaksa bahwa dia harus pulang karena Ibunya sakit. Memang aku tahu bahwa beberapa bulan belakangan Ibunya memang sakit-sakitan, tapi sakitnya bukan sakit berat atau sakit parah. Aku sempat memintanya mengundurkan rencana kepulangannya setelah aku selesai wisuda, tapi dia tidak mau. Dia tetap ngotot mau pulang meskipun Ayah dan Ibunya tak memintanya untuk pulang ke Jakarta. Ya sudah, aku tak dapat mencegahnya meskipun aku kecewa sekali.

Akhirnya, hari wisuda itu aku lalui bersama orang tuaku, adikku dan kekasihku. Tak lupa beberapa sahabat hadir melengkapi kebahagiaanku itu. Untuk mengenang peristiwa penting itu, aku berfoto bersama keluarga, kekasih, sahabat dan teman-teman kuliah. Tapi ada satu yang kurang, karena salah satu sahabatku ~Afifah~ tak kelihatan. Aku cari di tempat wisuda dan di kampus tak ketemu, bahkan aku sempat menunggu kedatangannya tapi tetap saja tak berhasil. Mengingat keluargaku harus segera kembali ke Madiun, maka mau tak mau aku segera kembali ke tempat kost sebelum melepas kepulangan keluargaku.


Saat aku memasuki tempat kost, teman-teman kost bilang bahwa Afifah ~sahabat yang dari tadi kutunggu kedatangannya~ baru saja meninggalkan tempat kostku. Kata teman kostku, Afifah tampak kebingungan dan sedih karena tak berhasil menemukanku dimana-mana. Kabar itu membuatku sedih.  Aku sendiri merasa foto wisudaku rasanya tak lengkap tanpa dia.

Sebelum makan siang bersama keluarga dan kekasihku, aku menyempatkan berfoto bersama teman-teman kost. Selesai makan siang kedua orang tuaku mengusulkan agar aku menemui Afifah di rumahnya. Awalnya aku menolak karena kupikir aku bisa menemuinya esok hari. Tapi kedua orang tuaku dan juga kekasihku memaksa bahkan mereka mengantarkan aku langsung ke rumah Afifah. Sesampai di rumah Afifah, keluargaku pulang ke Madiun dan meninggalkan aku dan kekasihku di rumah Afifah.

Melihatku datang, Afifah segera memelukku. Dia menceritakan usahanya mencariku di beberapa tempat tapi tak berhasil menemukan aku. Dia mengaku sangat kecewa dan sedih karena tak sempat menyaksikan aku dalam pakaian togaku. Mendengar ceritanya, aku jadi merasa bersalah dan semakin merasa sedih. Entah siapa yang memulai, akhirnya kami berdua menangis sambil berpelukan. Kekasihku hanya bisa diam termangu menghadapi dua orang gadis yang menangis di depannya tanpa bisa berbuat apa-apa.

Selanjutnya, kekasihku memberi isyarat pada Afifah yang tak aku pahami. Melihat isyarat itu, Afifah kemudian dengan terbata-bata menyampaikan sebuah berita duka. Rupanya, malam hari menjelang hari wisudaku, Ibunya Upik meninggal dunia. Upik mengabarkan berita itu dari Jakarta dengan menelepon Afifah di rumahnya. Sesuai pesan yang disampaikan Upik, Afifah mengabarkan berita duka itu pada keluargaku dan kekasihku.  Untuk itu Afifah  harus mendatangi hotel tempat kami menginap pada malam menjelang hari wisudaku. Khusus untukku, Upik berpesan bahwa aku baru boleh diberitahu setelah acara wisuda berakhir. Pantas saja, keluargaku dan kekasihku memaksaku untuk bertemu dengan Afifah segera setelah acara wisuda selesai. Ternyata ada berita yang harus aku dengar darinya.

Mendengar berita duka itu, aku merasa tertampar. Aku ingat sekali bahwa aku sempat melarang Upik pulang ke Jakarta. Rupanya Upik punya firasat bahwa waktu bagi Ibunya tak lama lagi, meskipun tak ada yang mengabarinya akan hal itu. Seandainya saja Upik menuruti keegoisanku, untuk pulang ke Jakarta setelah aku selesai wisuda, maka Upik tak akan sempat menunggui Ibunya di detik-detik terakhirnya. Untung saja Upik tetap ngotot pulang ke Jakarta dan tak peduli pada hasutanku.

Menyadari betapa keegoisanku hampir saja membuat Upik menyesal seumur hidupnya, mau tak mau aku merasa malu dan sedih sekali. Tanpa bisa kubendung, aku kembali menangis dalam pelukan Afifah yang juga ikut menangis bersamaku. Kembali kami menangis bersama sambil berpelukan. Dan sekali lagi... kekasihku hanya bisa salah tingkah menghadapi dua orang gadis yang menangis di depannya.

Ya Allah, dalam sehari aku telah belajar banyak hal tentang keegoisan dan persahabatan. Aku menyadari bahwa untuk kebahagiaanku di hari wisudaku itu aku telah berbuat sangat egois dan memaksakan kehendak pada Upik. Hampir saja aku menyesal seumur hidupku gara-gara sikap egoisku menutup kesempatan sahabatku untuk menemani orang terpenting dalam hidupnya terakhir kali.

Yang membuatku sangat malu, ternyata Upik tak sakit hati pada keegoisanku. Bahkan dalam dukanya, dia tak ingin merusak hari bahagiaku dengan meminta semua orang merahasiakan berita duka itu dan baru boleh menyampaikannya padaku setelah acara wisuda berakhir. Ya Allah, sahabat macam apa aku yang hanya memikirkan kepentingan dan kebahagiaan diriku sendiri...? Sementara Upik di saat sedang berduka malah sibuk memikirkan kebahagiaanku.

Saat aku berada dalam rasa malu yang amat sangat dan rasa kecewa pada diri sendiri yang kian memberat seperti itu, aku beruntung memiliki orang-orang yang tetap menerima dan menyayangiku seperti Afifah dan kekasihku. Mereka tetap setia menemaniku tanpa mencela ataupun menghakimi aku. Aku ingat sekali, betapa leganya aku saat aku bisa menangis bersama Afifah. Aku merasa diterima saat Afifah merengkuhku dalam pelukannya. Peristiwa itu semakin menyadarkan aku betapa berartinya persahabatan yang tulus itu.

Hari itu adalah hari yang sangat menguras emosiku. Hari itu Allah telah memberi banyak pelajaran berharga untukku dan suamiku. Ya.., suamiku telah menjadi saksi semua kejadian itu, karena suami adalah kekasihku kala itu. Hingga kini peristiwa itu tetap menjadi momen tak terlupakan bagi kami berdua... dan semoga saja pelajaran berharga yang kami petik saat itu tak akan pernah kami lupakan selamanya.


******

Kisah yang sederhana itu sengaja aku tulis untuk kembali memeriahkan Kontes Blog "Berbagi Kisah Sejati" yang diselenggarakan oleh Mbak Anazkia dengan disponsori oleh Denai Hati.

Semoga kisah sederhana ini dapat menjadi pelajaran bagi yang lain....


56 komentar:

inge / cyber dreamer mengatakan...

thx 4 share mba'..
bnyk pelajaran yg bs diambil dr kisah ini...

moga menang yah mba'...

siroel mengatakan...

insya'allah bermanfaat mbak...
makasih udah share...

semoga menang ya mbak...

siroel mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.
ajeng mengatakan...

Ada kalanya kita belajar tidak hanya dari sekolah ya mbak, tapi belajar dari kesalahan mungkin adalah pembelajaran berharga untuk masing-masing kita. Terima kasih sharingnya mbak, sukses njih..

Cerita Tugu mengatakan...

ada bahagia ada sedih, itulah kehidupan.

annie mengatakan...

persahabatan selalu menyimpan kisah-kisah indah, pilu dan terkadang dramatik, ya mbak. Saya turut sedih membacanya, mbak Upik demikian perhatian pada kebahagiaan mbak reni. Salam buatnya bila ketemu, ya.

Btw, mbak nggirim 2 artikel buat kontes. Salut! Semoga berhasil ya

buwel mengatakan...

Moga menang ajah ya Mbak...

achen mengatakan...

Maaf lom Mbaca.. :-(

Itik Bali mengatakan...

ya kadang kita ngga sadar kalo kita udah egois banget ya mbak

waahhh mbak Reni tamatan UGM ya?
hebat banget...

BrenciA KerenS mengatakan...

Mungkin dengan begitu Allah lebih banyak memeberi kekuatan persahabatannya mbak..

eniwe, semoga menang ya mbak.. :)

knk mengatakan...

i dont it means but i appreciate your comment thanks alot have a joyful day

Vicky Laurentina mengatakan...

Mengharukan. Segitu berartinya Bu Afifah ya sampek-sampek Mbak Reni minta dia datang ke wisudanya?

Aku aja nggak peduli berapa sahabatku yang hadir waktu aku wisuda. Lha sahabatku ya sama-sama teman almamaterku sendiri dan diwisudanya juga bareng-bareng.. :-D

Fanda mengatakan...

Ternyata pada hari terakhir mbak Reni di kampus, justru belajar hal yang amat bernilai, mungkin melebihi semua pelajaran yang mbak peroleh sewaktu kuliah. karena pelajaran itu adalah pelajaran tentang kehidupan...

Semoga menang kontesnya ya mbak!

Anazkia mengatakan...

Subhanallah.. Upik baik banget yah, Mbak :)

Makasih atas partisipasinya. Buat Ana, semua peserta adalah pemenang :)

Isti mengatakan...

persahabatan yang tulus itu sulit didapatkan

Dimas mengatakan...

sya jd ikut terharu, untung aja waktu itu upik nggak mendengarkan kata2 mbak, klo sampai kejadian mungkin itu bisa menjadi alasan putusnya suatu hubungan persahabatan..

Artikel Internet Online mengatakan...

mengharukan mbak, saya mendukung cerita ini untuk menang...

aura keyboard mengatakan...

Pengalaman yang menarik banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini!

nuansa pena mengatakan...

Kisah yang mengalir dengan bagus dan menimbulkan greget ...semoga anda pemenangnya!

Aguestri mengatakan...

Hanya bisa berpikir kapan aku bisa bikin cerita sebagus ini heheeh

Sukses ya mbak

menjadikosong mengatakan...

mengharukan

achen mengatakan...

Siang Embak... Sukses Selalu Ya... :-))

buwel mengatakan...

Berkunjung Doang... :-)

Anak Rantau mengatakan...

Ikut Mendukung Mbak, Semoga menang n thanks tentang Kisahnya.

By :
Anak Rantau

Rizky2009 mengatakan...

aq sll berusaha belajar dari setiap pengalaman aq untuk bisa lebih baik lagi

Cihampelas mengatakan...

wah
cerita ini
sedih
dan mengundang sesal
tapi itulah benar
belajar jadinya
hm....
semoga kejadian ini
terus menjadi hikmah
yang selalu diingat yah ^-^
bareng-bareng
^-^

dinoe mengatakan...

banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah diatas, met sukses kontesnya ya mbak....

Zulfadhli's Family mengatakan...

Indahnya persahabatan. Insya Allah tak akan lekang oleh waktu yah Mba :-)

TUKANG CoLoNG mengatakan...

semoga menang ..:)

richoyul mengatakan...

klo ga ada salah mesti kita ga tau apa yang benar, jadi jadikan kesalahan sebagai pelajaran :)

Ria Nugroho mengatakan...

lulusan 95 hihihi aku masih kelas 5 SD dulu :p
Good Luck ya mba kontesnya
semoga menang yah

aku sebenernya juga mau ikutan
tapi masih belum bisa publikasi kisah sejatiku *hahaha gaya deh*

Aulawi Ahmad mengatakan...

alumni ugm ya mbak :) btw moga menang ya mbak :)

Aby Umy mengatakan...

semangat mbak
semoga menang

rizan mengatakan...

kisah klasik tentang persahabatan,selalu menjadi kenangan.

semoga menang kontesnya mba...

AISHALIFE-LINE mengatakan...

perasaan kadang tidak bisa di bohongin.Alhamdulillah..temannya masih melihat ibunya di hari terakhir.semoga menag kontes sis.

Anggi Zahriyan mengatakan...

Pengalaman memang guru yg terbaik mbak. Sukses yaa lombanya :D

nietha mengatakan...

egois itu memang lebih banyak merugikannya mbak

ieyaz mengatakan...

aku sampe merinding baca ceritanya mbak reni itu.... bener-bener mengharukan..

banyak pelajaran yang bisa aku ambil dari situ..

joe mengatakan...

wah, tahun 1995 aku masih SMA mbak he he...

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

terharu membacanya

Jangkrik dan Babi Terbang mengatakan...

Wah, ikut lomba ya? moga menang ya mbak... :D

Krikk!!!

aguestri mengatakan...

Iya ni mbak ngutang juga ujung-ujungnya hehehe

MAkasih ya mbak atas komentarnya, tgu part II nya yaw heheeh

Jokostt mengatakan...

Satu kekuranganku sebagai seorang Pria, meski di usia saya yang tak muda lagi, adalah gampang terharu membaca kisah mengharukan seperti ini. Terima kasih ceritanya yang amat menyentuh saya, Mbak Reni.

didiet mengatakan...

good luck ya mbak kontes nya

infophone-kdr mengatakan...

Selamat atas wisudanya Mbak Reni dan semoga Mbak Upik diberi ketabahan dalam menghadapinya,slm...:D

odonk's mengatakan...

wah asli nagis ane sist..
bacanya...
mksh y sist dari cerita sist ane jd ngerti berapa hal.
n akan menjauhi yg namanya egoisme....
oia smoga menang y sist kontesnya..
slam knal jg..

kristiyana shinta mengatakan...

hhmmmpphh jadi terharu,,,
jadi kangen sahabatku juga,,,

attayaya mengatakan...

waaaah keknya mba Reni ikut 2 postingan ya
mantaaaap

berbagi wacana mengatakan...

artikel ini semakin baca,semakin enak untuk dinikmati...
sukses ya mbak :)

anyindia mengatakan...

wah mbak reny ngepost lagi yaaaa

amiboyz mengatakan...

ya kita semua harus belajar dari kesalahan

Yusnita Febri mengatakan...

thx untuk ceritanya mba..
dapet pelajaran di sini..

*maap klo telat mulu mampir..

cecep mengatakan...

tul.....karena kesalahan itu guru kita juga. buat menata masa depan jadi lebih baik....

Aguestri mengatakan...

Cuap-cuap ach sekalian ngasih tahu kalo part II nya sudah muncul, ditunggu komentarnya ya hehehe

Winny Widyawati mengatakan...

Pengalaman mengajarkan banyak hal ya mbak, smg menjadi pelajaran jg buat saya dan karya ini smg dpt menang ya mbak :)

Elsa mengatakan...

wuih lulusan UGM?
keren banget


semoga menang ya Mbak...