Pages

Jumat, April 11, 2014

My Most Unforgettable Journey : Bali dengan berjuta rasa

Kalau mau bahas soal perjalanan yang tak terlupakan sih... sebenarnya aku ingin cerita soal perjalanan pulang dari Semarang. Itu tuh, cerita tentang cowok yang sedang ngejar-ngejar cintaku (ceilee bahasaku... hehehe) menjemputku ke Semarang untuk pulang ke Madiun. Tapi, berhubung sudah pernah aku tulis maka dengan berat hati aku terpaksa ngubek-ngubek album foto untuk cari cerita seru perjalananku yang lain.


Sebenarnya ketemu cerita perjalananku yang satu lagi yang tak kalah seru dan tak terlupakan dari cerita pulang dari Semarang itu. Kalau yang ini cerita tentang perjalananku ikut rombongan SMP saat berdarmasiwata ke Malang. Kalau gak salah sih darmawisata itu aku ikuti tahun 1986 atau 1987 yang lalu (ketahuan banget aku angkatan jadul ya?). Tapiiii..., karena lagi-lagi ini ada kaitannya dengan cowok yang ngejar-ngejar cintaku (apalagi cowoknya masih orang yang sama!), maka dengan berat hati aku pun terpaksa melanjutkan acara ngubek-ngubek album foto lama! Cari cerita perjalanan tak terlupakan lainnya....

Akhirnya, setelah puas ngubek-ngubek album foto ketemulah foto yang mengingatkanku pada sebuah perjalanan yang tak terlupakan. Ini cerita tentang perjalanan ke Bali, tahun... berapa ya? Sebentar, aku ingat-ingat dulu. Emm..., kalau gak salah sih tahun 1987 atau 1988 deh. Dah, gak usah dibahas kalau itu cerita jadul juga... (^_^)

Ada banyak alasan mengapa aku menyebut perjalanan ke Bali saat itu tak terlupakan. Aku langsung list satu-satu aja alasannya, ya? Cekidot....

Pertama. Itu pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Bali, saudara-saudara. Saat pertama dengar orang tuaku mengajak liburan ke Bali... waahhh senengnya gak bisa diungkapin dengan kata-kata pokoknya. Excited bangeettt....

Kedua. Semakin senang karena kedua orangtuaku tak hanya mengajak aku dan adikku, namun juga mengajak orang lain untuk memeriahkan perjalanan kami. Total kami berangkat bersembilan dengan kendaraan (kalau gak salah sejenis) Mitsubishi Colt L300. Anggota rombongan saat itu adalah :
  1. Bapak
  2. Ibu
  3. Aku
  4. Adikku
  5. Mbak Utami (mantan penghuni kos di rumah Ibu, yang sudah dianggap sebagai adik Ibu)
  6. Mas Handoko (tetangga depan rumah, yang sudah dianggap sebagai keluarga karena perannya sudah seperti kakak bagiku dan adikku)
  7. Sugeng (anak dari mantan penghuni kos di rumah Ibu yang merelakan mobilnya disewa Ibu untuk ke Bali)
  8. Mbak Preh (asisten rumah tangga kami), dan
  9. Pengemudi

Ketiga. Saat itu, kami sampai Pelabuhan Ketapang kurang lebih jam 01.00 dini hari, rencananya sih kami sampai di Bali pagi hari dan setelah sarapan akan langsung putar-putar kota Bali. Tapi rencana berantakan gara-gara terjadi penumpukan kendaraan di pelabuhan itu. Entah aku lupa sebabnya, mungkin karena pelabuhan ditutup, atau saking banyaknya kendaraan yang antri menyeberang. Yang jelas... antrian di pelabuhan itu membuat kami frustrasi. Sebab kami gak tahu kapan bisa menyebrang, karena gak ada pemberitahuan soal itu.
Para pengemudi juga gak berani meninggalkan kendaraan karena sewaktu-waktu kendaraan bisa bergerak maju, walau pada kenyataannya selama berjam-jam kendaraan gak juga beranjak. Jika akhirnya beranjak pun, hanya beringsut 1-2 meter saja. Sedangkan para penumpang gelisah, karena di pelabuhan gak ada tempat yang enak untuk mengalihkan rasa bosan. Mau ke kamar mandi gak enak juga, selain antri juga kurang bersih. Mau tidur di dalam mobil yang berhenti, juga gak nyaman sama sekali.
Dan, setelah menunggu dengan putus asa... akhirnya kami bisa menyebrang juga saudara-saudara. Tahu gak jam berapa saat itu? Kami menyeberang... kurang lebih pukul 14.00!! Kebayang kan selama 13 jam kami terjebak di pelabuhan? Aku gak bakal melupakan pengalaman tak mengenakkan, justru di saat kunjungan pertamaku ke Bali itu!

Keempat. Setelah pada akhirnya kami bisa menyeberang dan sampai Bali, ternyata penderitaan belum berakhir. Kami sampai Denpasar sudah sore, dan karena kami belum booking hotel sebelumnya, jadilah kami sibuk berputar-putar cari hotel! Di satu hotel sudah penuh, di hotel lain cuma tersisa 1 atau 2 kamar saja, padahal kami butuh 4 kamar! Setelah putar-putar Denpasar, akhirnya kami dapat juga penginapan. Sayangnya aku sudah lupa nama penginapan itu. Karena kami dapat penginapan itu sudah malam, jadi begitu dapat penginapan kami langsung milih tidur. Jadinya... hilang sudah kesempatan sehari ngubek-ngubek Bali!

Kelima. Untungnya Bali memang mampu menghadirkan keindahan dan kebahagiaan bagi para pengunjungnya. Lenyap sudah rasa capek dan sebel karena tertahan 13 jam di Pelabuhan Ketapang. Setiap tempat yang kami kunjungi mampu menghadirkan senyum dan kebahagiaan bagi kami semua. Untuk mengganti hari pertama yang tersia-sia di pelabuhan itu, maka kami harus mempersingkat waktu kunjungan ke masing-masing tempat wisata. Sebenarnya belum puas sih... tapi mau bagaimana lagi? Begitu banyak tempat yang ingin kami kunjungi selama di Bali.


adikku, aku dan mbak Preh


bahagia di pantai

Keenam. Saat mengunjungi Sangeh aku dikejutkan dengan sambutan kera-kera yang luar biasa. Aku melihat bagaimana kera-kera itu melompat pada pundak pengunjung, ada yang merebut tas yang dibawa pengunjung, ada yang merebut kamera pengunjung dll. Ih serem.... Aku sampai gak berani masuk karena sudah geli aja membayangkan tiba-tiba ada kera yang meloncat ke arahku dan bergelayutan di pundakku. Lebih serem lagi saat membayangkan kera-kera itu merebut kacamata yang aku pakai. Nah, gara-gara melihat agresifnya kera-kera di Sangeh, aku jadi sangat takut setiap melihat kera. Sampai sekarang pun aku gak bakalan mau ke tempat-tempat yang banyak kera berkeliaran. Seremmmm....

Ketujuh. Itulah kali pertama dan (sampai sekarang) satu-satunya kesempatanku pergi ke Bali. Sampai sekarang aku belum berkesempatan lagi untuk bisa berwisata ke Bali, walau sebenarnya pengen sekali. Untung saja, Shasa sudah ke Bali bersama rombongan sekolah pada tanggal 22-26 Maret 2014 yang lalu. Lumayanlah, mengurangi rasa bersalahku karena belum berkesempatan mengajaknya ke Bali bersama-sama.

Itulah 7 alasan mengapa perjalanan ke Bali menjadi pengalaman tak terlupakan bagiku. Meskipun ada perasaan sebel, karena tertahan di pelabuhan selama 13 jam dan berputar-putar kota selama berjam-jam hanya untuk cari penginapan, tapi tetap saja kenangan indah tentang Bali tak ternoda sama sekali.

Oya, untuk foto aku hanya pasang 2 aja, walau sebenarnya ada beberapa foto kami di sana. Tapi mengambil foto yang sudah nempel kuat di album itu susah sekali dan karena aku tak ingin merusak fotonya jadi aku hanya ambil 2 bukti saja. Tetep, no photo is hoax. BTW, aku tak terima komentar soal kostum yang aku pakai #ngancam. Aku gak mau dibilang saltum, yah setidaknya aku gak pake batiklah hahaha....

Sampai sekarang aku masih menyimpan keinginan, semoga suatu saat nanti aku dan keluargaku dapat pergi ke Bali. Syukur-syukur jika keduaorangtuaku dan juga keluarga adikku bisa ikut serta. Dan tentu saja, aku berharap kepergianku ke Bali kelak tak akan tertahan lagi di pelabuhan, karena aku akan memilih lewat udara. #Balasdendam *gak mau kenal pelabuhan lagi ceritanya* (^_^)



Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Unforgettable Journey Momtraveler’s Tale

15 komentar:

  1. wah,,,aku belum lahir mbak tahun 1986 waktu mbak Reni SMP,,,,seru juga ya ceritanya sambil melihat foto jadulnya mengingatkan akan memoar lama,,,wajahnya belum berubah dari dulu sampai sekarang,,,sukses GA nya mbak,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wajahnya elum berubah? Ah yang bener... bikin aku jadi GR aja nih hehehe
      Apa? Tahun 1986 kau belum lahir? alamak... tua kali ini ini ya?

      Hapus
  2. saya udah lama gak ke Bali. Bertahun2 lalu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan mau ke Bali lagi Mak?

      Hapus
  3. ya ampun mba... muka nya masih anak2 bgt ya dulu... hihihihi.. perjuangan bgt juga ke balinya.. kalo pergi sekarang sih hotel udah banyak dimana2 jd ga mungkin kehabisan kamar..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Muka anak2 ya? Ya jelaslah... itu fotoku waktu masih abegeh dulu kok hehehe.
      Kalo sekarang muka emak2 ya? hehehe

      Hapus
  4. Th 87-an msh SMP? Naah...lebih jadul aku ternyata..haha.... Mudah-mudah pengalaman ke Bali selanjutnya lebih berkesan ya mbak... dan semoga sukses di GA Jeng Muna.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. 87 itu aku keluar SMP dan masuk SMA mak... hehehe
      Jadi, kita sama2 jadul nih judulnya? hahaah

      Hapus
  5. waaahhh.... pengen ke Bali, tapi kapan ya.........:)

    Sukses GA nya, maak....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa segera ke Bali Mak... :)

      Hapus
  6. wah ternyata sudah lama sekali ya buk ke bali nya. foto nya kelihatan sudah lama hehe :D
    saya belum lahir tuh tahun 1986 ehehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fotonya keliatan jadul banget ya? hehehe

      Hapus
  7. Saya malah belum pernah ke Bali mbak.. Hehe..
    Btw, sukses dengan GAnya, pengen juga ikutan yang ini, tinggal sehari deadlinenya ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi aku lebih beruntung ya, sudah sempat ke Bali walau baru sekali hehehe

      Hapus
  8. hahahah...ngikik baca yg pas 'yah setidaknya aku gak pake batiklah' :D takandhakke loh mbaaaa.... :D

    BalasHapus

Komentarnya dimoderasi dulu ya? Terimakasih sudah mampir dan meninggalkan jejak. (^_^)