Pages

Selasa, Desember 16, 2014

Review : Egi Anak Bau Kencur


Erisa Gun Indrawan adalah nama lengkap Egi, seorang gadis manis yang tomboy dan sangat mencintai bola. Sepak bola dan futsal adalah hal yang sangat dicintainya. Statusnya sebagai anak tunggal dan kedekatannya dengan almarhum Papanya mungkin yang menjadi penyebab kecintaan Egi pada bola. Maklum saja, sang Papa merupakan anggota tim sepak bola. Tentu saja kecintaan Egi pada bola itu membuat Mamanya resah. Segala cara telah dilakukan Mamanya untuk menghalangi Egi bermain dan bertanding bola. Namun, kecintaan Egi pada bola membuat semua usaha Mamanya sia-sia belaka.

Egi yang sehari-hari hidup bersama dengan Mama ~yang berprofesi sebagai dokter~ dan neneknya itu lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain bola. Pelajaran sekolah sama sekali tak menarik perhatiannya. Tak mengherankan jika pada saat kelulusan SMP nilai-nilai Egi sangat jauh dari memuaskan. Dengan nilai yang hanya pas-pasan seperti itu sulit bagi Egi untuk memilih sekolah negeri yang bagus. Untungnya, dia masih bisa diterima di sebuah SMA Swasta, itupun peringkatnya ada di posisi 208 dari 209 siswa yang diterima.

Egi sangat bersyukur masih bisa diterima di sekolah tersebut. Apalagi setelah dia dinasehati sahabatnya yang memintanya untuk bisa menjadi anak kebanggaan Mama serta neneknya. Semua itu memunculkan kesadarannya untuk lebih serius sekolah dan melupakan hobi bolanya. Dia ingin mengukir prestasi yang sebaik-baiknya di sekolah. Dia ingin membuat Mama dan Neneknya bahagia dan bangga padanya.

Sayang, Egi akhirnya harus meninggalkan SMA yang dicintainya. Setelah Neneknya meninggal, Mamanya mengajak Egi pindah ke kota kelahiran Mamanya yaitu Malang. Sejak kepindahannya itu Egi terpaksa berpisah dengan sahabat tercintanya dan juga cowok yang diam-diam dicintainya.


*****

Kelebihan

Salah satu daya tarik novel ini adalah pengarangnya ~Rhegita Resih Kemuning~ yang masih duduk di kelas 6 SD saat membuatnya. Sungguh menarik mengetahui anak sekecil itu sudah bisa menuliskan sebuah buku, apalagi bercerita tentang kehidupan remaja lengkap dengan romantikanya. Bahkan, endingnya menggambarkan Egi sudah lulus kuliah dan bekerja. Sungguh menarik membayangkan imajinasi penulisnya yang berkembang jauh di atas usianya saat itu.

Daya tarik kedua adalah cover bukunya yang merupakan hasil coretan tangannya. Bahkan di dalam novel tersebut, pada beberapa halaman ada ilustrasi yang "menggambarkan" cerita secara lebih nyata lewat ilustrasi tersebut. Ternyata Rhegita bukan hanya pandai menulis tapi juga pandai menggambar. Selain itu penulis cukup PD untuk menampilkan gambarnya dan penerbitnya juga memberikan kesempatan yang luas pada Rhegita dalam berkarya dan mengembangkan diri. Keren pokoknya!

Untuk ukuran anak kelas 6 SD, cerita dalam novel ini mengalir cukup lancar. Memang sesekali ada lompatan-lompatan kecil di tengah cerita, namun tak mengganggu keasyikan untuk membacanya. Memang ceritanya tak menyajikan konflik yang rumit, mengingat penulisnya yang masih kecil, namun justru itu membuat pembaca tak kesulitan dalam menikmatinya.

Salah satu nilai tambah dalam novel ini adalah penulis berhasil menyelipkan pesan moral dalam ceritanya. Sekali lagi, mengingat penulisnya masih anak-anaknya, hal ini adalah luar biasa. Biasanya penulis-penulis remaja lebih banyak menonjolkan sisi romantikanya dan mengesampingkan pesan moral yang dapat dipetik oleh pembaca. Jarang sekali aku menemukan cerita remaja yang menyisipkan pesan moral dan hikmah untuk direnungkan pembacanya. Namun, Rhegita di usianya yang masih anak-anak, mampu memberikan nilai plus untuk novelnya ini.

Hikmah yang dapat dipetik pembaca bermula saat munculnya kesadaran Egi akibat nilai ujiannya SMPnya yang buruk. Selanjutnya Egi bertransformasi dari anak yang hanya peduli pada bola menjadi anak baik yang berupaya bisa membanggakan Mama serta Neneknya. Bahkan di akhir cerita digambarkan Egi telah tumbuh sebagai wanita yang membaktikan dirinya bagi orang-orang lain yang membutuhkan. Keharmonisan hubungan kakak-adik Mono dan Mini juga patut diteladani, di tengah makin tipisnya ikatan kekeluargaan dewasa ini.

Kekurangan

Sebagai karya perdana aku patut mengacungkan jempol pada penulisnya, namun tetap saja tak ada gading yang tak retak. Ada beberapa hal yang perlu dibenahi. Yang pertama, pemilihan kata dan penempatan kata yang terkadang tidak tepat. Hal yang dapat kumaklumi karena penulisnya saat itu masih kelas 6 SD, apalagi kusadari bahwa aku belum tentu dapat membuat buku seperti ini. #sigh

Yang kedua adalah aku sedikit terganggu dengan "penempatan" gambar bola di akhir beberapa kalimat. Jika gambar bola itu ditempatkan di setiap akhir bab, rasanya lebih pas karena dapat berfungsi untuk memisahkan cerita satu dengan lainnya. Tapi di sisi lain munculnya gambar bola itu menegaskan sosok Egi sebagai pecinta bola.

Yang terakhir adalah penggunaan kata ganti orang pertama yang belum konsisten. Terkadang, penulis menggunakan kata "aku" tapi terkadang memilih menggunakan kata "Egi". Sehingga terkesan bahwa aku dan Egi adalah dua pribadi yang berbeda.

Novel ini juga masih menyisakan satu pertanyaan di benakku, yaitu soal Tante Isna (sahabat Mama Egi). Di awal diceritakan bahwa Mama suka bercerita tentang kisah masa lalu Mama dengan Papa, dan juga sahabat mama yang bernama Tante Isna. Namun, Mama selalu memotong cerita ketika terucap nama Tante Isna. Sementara di akhir cerita Mama dan Tante Isna bertemu kembali setelah sekian lama berpisah. Tapi, tidak ada penjelasan apa yang terjadi di masa lalu antara Mama dan Tante Isna. Jadi, mengapa Mama selalu memotong cerita setiap menyinggung tentang Tante Isna? #tanyakenapa

Terlepas dari kekurangannya, yang sejujurnya sangat aku maklumi karena penulisnya adalah anak kelas 6 SD, aku merekomendasikan buku ini untuk dibaca para remaja, apalagi harganya yang sangat terjangkau. Ada banyak pesan moral yang dapat dipetik darinya daripada sekedar membaca cerita-cerita remaja lainnya yang seringkali isinya hanya masalah cinta-cintaan saja.

Dari segi "kemasan" aku suka dengan kertas yang dipakai, meski bukan kertas putih (mungkin untuk menekan biaya) tapi kertasnya lumayan bagus. Huruf yang dipilih juga memudahkan untuk membaca, apalagi spasinya cukup lebar sehingga tidak membuat mata cepat lelah.


Data Buku
Judul : Egi Anak Bau Kencur (warna-warni remaja masa kini)
Penulis : Rhegita Resih Kemuning
Penerbit : Mozaik Indie Publisher
Cetakan : Pertama, Desember 2012
Tebal : 131 halaman
Harga : Rp. 35.000


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Resensi Buku Mozaik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentarnya dimoderasi dulu ya? Terimakasih sudah mampir dan meninggalkan jejak. (^_^)