Pages

Selasa, September 23, 2014

Sekolah impian dengan guru-guru yang peduli

Bicara tentang sekolah, aku paling terkesan dengan sekolah dasar-ku dulu. Penyebabnya adalah karena guru-gurunya hebat dan luar biasa. Aku dulu bersekolah di SD swasta milik Angkatan Darat. Alasan orang tuaku memilih SD itu adalah karena lokasinya yang dekat dengan rumah. Jadi, aku bisa berangkat dan pulang sendiri.

SD-ku dulu sebenarnya biasa saja. Lahannya pun kecil karena hanya ada 6 kelas saja. Guru-gurunya juga tak banyak, namun semua guru yang ada di sana bisa dekat dan akrab dengan murid-muridnya. Komunikasi yang hangat dan terbuka itu membuat masing-masing guru dapat mengenali secara mendalam masing-masing anak didiknya.

Aku ingat sekali ada temanku, Hengky namanya, sering tanpa sadar melakukan “tik”. Tik adalah suatu gerakan motorik—lazimnya mencakup suatu kelompok otot khas tertentu—yang tidak berada di bawah pengendalian tubuh, berlangsung cepat, berulang-ulang, dan tidak berirama. Tik yang dilakukan Hengky ini adalah menjentikkan tangan di dekat telinga dan di saat yang bersamaan kepalanya geleng-geleng 2-3 kali.

Guru di sekolah tahu bahwa Hengky bercita-cita jadi Polisi dan tentu saja tik yang dilakukan Hengky ini akan menjadi penghalangnya mencapai cita-citanya. Makanya, tanpa sungkan guru meminta siapa saja yang melihat Hengky melakukan tik itu untuk mencubitnya dan meminta Hengky untuk tidak boleh marah. Setelah sekian lama selalu dikejutkan oleh cubitan dari teman-temannya saat sedang melakukan tik, akhirnya Hengky berusaha untuk mengontrol dirinya. Pada akhirnya, Hengky benar-benar bisa sembuh total dari tik-nya tersebut. Dan, kini Hengky telah berhasil menjadi Polisi bahkan sudah menjabat sebagai Kapolres di suatu tempat di Sumatra Selatan sana.

Itu salah satu contoh kecil bagaimana guru-guru di SD ku dulu benar-benar paham dan peduli anak didiknya. Bukan hanya karakter, mereka juga hafal betul kelemahan dan kekuatan fisik anak didiknya. Contohnya, mereka hafal bahwa setiap kali aku minum es pasti aku akan langsung jatuh sakit, sehingga mereka tak segan menegurku saat aku aku ketahuan (meski sudah berusaha sembunyi-sembunyi) saat beli es di kantin sekolah.

Saat aku duduk di kelas 4, dimana jiwa “peer group” sedang sangat berkuasa, aku dan teman-teman cewek bermusuhan dengan semua teman cowok di kelas. Perseteruan seru itu membuat guru-guru pusing juga. Akhirnya suatu kali Bu Guru member kami sekelas “ceramah gratis” tentang buruknya permusuhan dengan teman sendiri. Terus, aku (mewakili murid cewek) dan Edi (mewakili murid cowok) dipanggil maju di depan kelas. Aku dan Edi diminta untuk bersalaman dan berdamai.

Guru SD ku juga mempunyai cara unik dalam belajar dan menyelami karakter anak didiknya. Saat kelas 2, aku ingat sekali pas pelajaran matematika guru “merubah” kelasku menjadi pasar lengkap dengan sayur mayur, tahu, tempe dll. Kami secara bergantian disuruh memerankan penjual dan pembeli yang melakukan transaksi. Selain belajar berhitung (tambah kurang) guru kami juga menanamkan pendidikan karakter melalui kegiatan itu.

Lain lagi pada saat aku duduk di kelas 5 dan kelas 6, kami beberapa kali ditugasi untuk membuat makanan atau minuman ringan secara berkelompok. Esok harinya makanan atau minuman kami itu dijual di kantin sekolah kami dan kami juga yang ditugasi sebagai penjualnya pada hari itu. Kami pernah juga diajari membuat balsam dan telur asin. Kata guruku ketrampilan itu bisa dipakai untuk hidup kelak. Hebat ya? Padahal jaman aku SD dulu multiple intelligent belum dikenal seperti sekarang.

Berkaca pada pengalaman SD ku dulu, aku mengira guru-guru SD Shasa (putri semata wayangku) akan sama hangatnya. Aku yang dulu mengira akan bisa sering-sering berkonsultasi dengan guru SD Shasa, ternyata harus kecewa. Saat Shasa baru duduk di kelas 1, aku dengan semangat 45 mencoba untuk berkonsultasi tentang perkembangan Shasa (seperti yang selalu aku lakukan saat Shasa TK). Sayangnya, tanggapan dari guru Shasa kurang hangat. Semua pertanyaanku hanya dijawab seadanya. Pernah aku menyampaikan keluhan Shasa tentang posisi tempat duduk yang tak diputar, tanggapannya malah tak ramah.

Jujur saja, menurutku sekolah impian adalah sekolah seperti SD ku dulu, yang guru-gurunya peduli pada anak didiknya. Aku berharap semua guru di sekolah bisa seperti guru-guru SD ku dulu. Semakin lengkap karena guru-guru SD ku dulu telah berinisiatif membuat kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan. Menurutku bagi sekolah sangat penting mengenal anak didiknya agar dapat digali potensinya. Hal ini penting karena mengacu pada Multiple Intelligent maka setiap anak itu pandai. Sudah waktunya sekolah memberikan perhatian pada pengembangan anak didiknya yang tak hanya didasarkan pada kemampuan akademis semata.

Sayangnya, saat ini sering aku dengar dari beberapa teman tentang guru-guru yang sekarang malah sibuk mengurus berkas-berkas sertifikasi. Semoga cerita seperti itu tak banyak terjadi. Aku masih berharap banyak guru yang masih peduli pada anak didiknya. Kepedulian untuk mengenali karakter dan potensi masing-masing anak didiknya, agar generasi muda kita dapat maju dan berkembang.

Percuma jika sekolah punya gedung sekolah dan fasilitas yang bagus, program ektra kurikuler yang banyak jika guru-gurunya tak peduli pada anak didiknya. Bagaimanapun juga, anak didik yang pintar sekalipun tetap membutuhkan arahan dan bimbingan dari guru-guru untuk bisa lebih berkembang.

Jadi kesimpulannya, sekolah yang baik (sekolah impian) adalah sekolah yang memiliki guru-guru yang peduli pada anak didiknya. Itu sekolah impianku. Bagaimana denganmu?



Mommylicious #Parentingbook

Tulisan ini diikutsertakan dalam “Give Away Sekolah Impian

15 komentar:

  1. jaman sekoah duu berarti sudah ada tugas bikin kue juga ya mak,beneran baru tahu hehe..soalnya q duu nggak pernah dpt tugas beginian,paing2 bawa kue pas isro mi'raj :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak... utk pelajaran PKK ada praktek buat makanan utri.
      Utk yang dijual di kantin itu salah satunya buat sirup, uang penjualannya dikembalikan ke murid lagi

      Hapus
  2. luar biasa ya kalau para guru peduli getu, jadi tidak hanya mengajar saja,tetapi juga mendidik siswa nya :)

    ikutan lomba yuk di situs dicuekin.com :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah makanya aku sayaaaanggg banget ama guru2 Ku SD dulu

      Oya makasih info lombanya :)

      Hapus
  3. waaahhh... zaman sekarang udah jarang guru yg seperhatian itu. waktu saya SD juga guru yang care bisa dihitung dengan jari. pengennya nanti keturunan saya punya guru2 macam gurunya Mak Reni. Nyari di mana yaaaa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Guru SD nya Shasa aja sudah cuek bangettt... kecewa aku, karena dalam bayanganku guru SD tuh ya care kayak guru SD ku dulu

      Apa kabar Lie?

      Hapus
  4. Dulu guru disibukkan mengurusi siswa yang lagi ngerjain tugas PKK/Kertangkes; Menjahit baju, bikin kue, bikin sapu, bikin sulak dll. Ngangeni banget :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa... dulu guru2 emang sibuk ya di pelajaran PKK mengajarkan macam2... sampai menyulam, menyongket, bikin balsem, dll

      Hapus
  5. Akhirnya bisa ikut juga ya Mak GA yg ini... Moga sukses ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... setelah sekian lama absen ngeblog dan ngontes seneng banget rasanya saat tulisan ini jadi :D

      Hapus
  6. jaman kita sekolah dulu hubungan dengan guru dan lingkungan sekolah memang lebih dekat dan mengesankan.guru-guru full perhatian ke murid-muridnya yang belum disibukkan dengan jadwal les ini itu.ekstra kurikuler berlangsung sesuai minat murid. jaman sekarang tentu banyak peningkatan, tapi hubungan personal antar guru,murid dan sekolah sepertinya lebih berkesan dalam ketika jaman kita dulu.padahal jaman itu belum dimudahkan dengan kemajuan teknologi dan kecanggihan gadget seperti sekarang ya maak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau mengenang masa2 sekolah dulu memang beda banget dengan kondisi sekolah sekarang kok ya?
      Walau sekarang masih ada sih guru yang care sama murid tapi beda dengan dulu :)

      Hapus
  7. guru2 mba Reni hebat, seharusnya menjadi contoh utk guru2 yg lain

    BalasHapus
  8. "tik". baru tau sy mak. semacam latah kah begitu?

    BalasHapus
  9. wajar kalau kita mengidolakan tempat sekolah kita dulu. makanya biasanya ortu mencari sekolah untuk anaknya seperti sekolahnya dulu.

    BalasHapus

Komentarnya dimoderasi dulu ya? Terimakasih sudah mampir dan meninggalkan jejak. (^_^)